Pernah suatu hari ketika aku sedang bermain kerumah seorang teman akrab. Nama teman akrabku itu bernama Yosep Frangky dan abangnya Rianto tapi lebih dikenal dengan panggilan Ucok, karena memang mereka adalah keluarga turunan suku Batak. Orang tua mereka datang ke kalimantan, Pontianak ketika mereka masih belum dilahirkan.
Sekitar 15 tahun yang silam, sekitar 3 tahun setelah pertemuan terakhirku dengan nenekku yang ada di jawa sana. ketika itu aku masih duduk di bangku SD (sekolah dasar). Masih teringat akan omongan seorang nenek yang berbicara soal meramal (sekitar 3 tahun yang silam itu). Dia (si nenek) bisa membaca sifat dan watak seseorang lewat tali garis telapak tangan dan lekuk sidik jari yang ada di ujung-ujung jari.
Siang hari yang panas setelah pulang dari sekolah, dan makan siang, aku memang sering bermain ke rumah temanku itu, Yosep. kami biasanya duduk, ngobrol dan bercanda di kamar yang lusuh tapi entah nyaman buat berkumpul.
Siang ini, selagi dalam sebuah lamunan, ditengah proses mengisi perut yang tidak begitu keroncongan, dilatar belakangi sebuah musik MP3 laptop yang berdentang dari ST12 “Rasa yang tertinggal” mendukung suasana sebuah impian dan cita-cita dalam lamunan.
Hal pertama (secara tiba-tiba ketika melihat wajahnya) yang kudapatkan dari 




